Home > Wanita dlm Islam > Wanita (dalam Islam)

Wanita (dalam Islam)

Dalam setiap aspek ajarannya, islam telah menempatkan posisi wanita pada posisinya yang porposional dan terhormat. Islam menyatakan bahwa Allah telah menyediakan pahala yang setara antara perempuan dan laki-laki atas setiap amal shaleh yang mereka lakukan.
Dalam bahasa Arab, kata wanita disebut dengan ‘al unutsah’ yang secara definitif merupakan lawan dari laki-laki (khilaf adz dzukurah). Hal ini sebagaimana termaktub di dalam kamus ash Shihhah dan kamus-kamus bahasa Arab lainnya. Dalam konteks ini, Allah SWT berfirman,
“íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÇÓõ ÅöäøóÇ ÎóáóÞúäóÇßõãú ãöäú ÐóßóÑò æóÃõäúËóì æóÌóÚóáúäóÇßõãú ÔõÚõæÈðÇ æóÞóÈóÇÆöáó áöÊóÚóÇÑóÝõæÇ Åöäøó ÃóßúÑóãóßõãú ÚöäúÏó Çááøóåö ÃóÊúÞóÇßõãú Åöäøó Çááøóåó Úóáöíãñ ÎóÈöíÑñ”
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al Hujurat/: 13).

Dengan demikian pada pembahasan fiqih tentang wanita, pengertian wanita menurut fuqaha tidaklah keluar dari pengertian di atas. Selanjutya, para fuqaha menyebutkan sejumlah tanda kewanitaan yang membedakannya dengan laki-laki. Tanda-tanda tersebut dapat dilihat dari sisi hissi/fisikal seperti haidh maupun sisi maknawi/non fisikal seperti thabiat, prilaku.
Dalam konteks terminologi ini, terdapat pula term lainnya yang terkait dengan term unutsah yaitu al khunutsah. Para ahli bahasa mendefinisikan al khunutsah sebagai jenis manusia yang memiliki dua kelamin, perempuan dan laki-laki sekaligus.  Adapun menurut fuqaha, al khunutsah memliki dua pengertian, 1) orang-orang yang terlahir dengan dua kelamin sekaligus, dan 2) orang-orang yang terlahir tanpa kelamin sama sekali.

WANITA DALAM PANDANGAN ISLAM

Islam Memuliakan Kedudukan Perempuan
Pada aspek ini dapat dilihat dalam beberapa sisi:

Menyambut Kelahiran Bayi Perempuan Dengan Cara Yang Baik
Pada masa Arab Jahiliah, bangsa Arab umumnya menyambut kelahiran bayi perempuan mereka dengan sambutan yang buruk, mereka merasa terusik dengan keberadaannya. Sebab bagi mereka perempuan merupakan penyebab datangnya kefaqiran dan kehinaan. Oleh sebab itu mereka pun menguburkannya dalam keadaan hidup-hidup. Sedangkan jika mereka tidak menguburkannya, mereka memberikan para anak perempuan nafkah yang lebih rendah dari anak laki-laki bahkan lebih buruk dari nafkah yang mereka berikan kepada budak maupun hewan piaraan.  Lalu Allah melarang umat Islam melakukan perbuatan tersebut dan mencelanya. Bahkan Allah menjelaskan bahwa perbuatan tersebut dapat mendatangan kerugian yang nyata, “Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui…”  (QS. Al An’am: 140)
Islam telah mengingatkan manusia bahwa hak eksistensi dan kehidupan merupakan pemberian dari Allah SWT bagi setiap manusia apakah laki-laki maupun perempuan, Allah SWT berfirman:
                
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Asy Syura: 49)

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata: “Allah SWT mendahulukan penyebutan perempuan (pada ayat di atas) padahal kaum Jahiliah merendahkan perempuan hingga mereka menguburkannya hidup-hidup, maksudnya adalah bahwa Allah SWT mencela prilaku kaum jahiliah yang merendahkan wanita, sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firman-Nya, “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An Nahl: 58-59).”
Qatadah berkata sebagaimana yang diriwayatkan oleh At Tabhari, “Allah SWT mengkhabarkan (dalam ayat di atas) kejinya perbuatan mereka, adapun orang-orang yang beriman maka mereka ridho dengan apa yang telah Allah berikan kepada mereka. Dan ketetapan Allah bagi mereka adalah lebih baik dari pada keputusan manusia, dan sungguh manusia tidak mengetahui apa yang terbaik bagi mereka. Tuan seorang budak adalah lebih baik bagi keluarganya dari pada budak lainnya. Adapun tujuan Allah mengkhabarkan perbuatan mereka, agar kalian (orang-orang beriman) menjauhi apa yang kaum jahiliah perbuat. Di mana salah seorang di antara mereka memberikan makan untuk anjingnya sedangkan pada saat yang sama ia mengubur hidup-hidup anak perempuannya.”
Pada dasarnya Islam tidak hanya menghendaki setiap muslim untuk dapat menjauhi perilaku kaum jahiliah tersebut, bahkan Islam menghendaki setiap muslim dapat mencapai derajat kemanusian yang tinggi dan menjadi contoh bagi manusia lainnya. Maka setiap muslim tidak akan merasa malu mendapatkan karunia berupa anak perempuan serta tidak menyambut kelahirannya dengan muka masam dan sambutan yang buruk. Namun ia menerimanya dengan rasa ridho sembari memuji Allah atas karunia tersebut. Shalih bin Imam Ahmad pernah berkata, “Imam Ahmad jika dikarunia seorang anak perempuan maka ia akan berkata, “Para Nabi mereka adalah ayah atas anak-anak perempuan mereka” dan ia pun berkata, “Talah datang kepada anak perempuan (ayat-ayat) yang mana engkau telah mengetahuinya.”

Mengaqiqahinya
Islam telah menetapkan bahwa hukum mengaqiqahi anak yang baru lahir adalah sunnah. Apakah anak yang terlahir berupa laki-laki ataupun perempuan. Oleh sebab itu, sebagaimana orang tua/wali anak mengaqiqahi anak laki-laki pada saat berumur tujuh hari demikian pula disunnahkan baginya mengaqiqahi anak perempuannya pada hari tersebut.  Namun Islam menetapkan bahwa aqiqah bagi anak laki-laki berupa dua ekor kambing sedangkan bagi anak perempuan cukup dengan seekor kambing.

Memberi Nama yang Baik
Di antara sunnah Rasulullah SAW, terkait kelahiran seorang anak adalah memberikan nama untuk anak yang terlahir dengan nama yang baik, baik laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW suka merubah nama laki-laki (anak-anak yang baru lahir maupun para shahabatnya) yang buruk dengan yang baik, begitu pula nama perempuan di antara mereka.  Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Shahabat Ibnu Umar ra bahwa Umar ra memiliki seorang anak perempuan yang bernama ‘Ashiyah (yang berma’siat) lalu Nabi SAW menggantinya dengan nama Jamilah (yang indah). (HR. Muslim (cet. cet. Al Halabi, 3/1687), dan Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad, cet. As Salafiah, h. 286)
Selain itu, di antara hal terpuji terkait pemberian nama ini adalah pemberian Kunyah. Imam Nawawi berkata, “Sebagian dari adab adalah memanggil atau berbicara dengan orang-orang yang terhormat dengan menyebut kunyah mereka, dalam hal ini Nabi SAW diberi kunyah Abi Al Qasim karena anaknya bernama Al Qasim.” Sebagaimana kunyah disematkan untuk para laki-laki, maka demikian pula dengan perempuan. Imam An Nawawi berkata, “Kami meriwayatkan sebuah hadits dari Sunan Abi Daud dengan sanad-sanad yang shahih dari Aisyah ra, ia berkata, “Wahai Rasulullah setiap Shawahibi (para shahabat wanita) memiliki kunyah. Lalu Rasulullah bersabda, “Maka berkunyahlah dengan nama anakmu, Abdullah.” Sang Rawi hadits berkata, “Yaitu Abdullah bin Az Zubair kerena ia adalah anak dari saudari Aisyah, Asma’ binti Abi Bakar, dan Aisyahpun berkunyah dengan kunyah Ummu Abdillah.”

Perempuan Memiliki Bagian dari Harta Warisan
Allah SWT telah menetapkan bagi wanita bagian dari harta warisan sebagaimana laki-laki. Sedangkan bangsa Arab pada masa Jahiliah tidak memberikan untuk para wanita bagian warisannya. Sa’id bin Jubair dan Qatadah berkata, “Orang-orang musyrik memberikan harta warisan hanya bagi laki-laki dewasa saja dan mereka tidak memberikannya kepada para wanita dan anak-anak, maka Allah menurunkan firman-Nya, “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (QS. An Nisa’: 7) yaitu bagi semuanya (laki-laki dan perempuan) memiliki hak yang sama dalam hukum Allah SWT tentang harta warisan meskipun bagian yang diterima berbeda menurut apa yang telah ditetapkan Allah bagi mereka.”
Al Mawardi berkata dalam Tafsirnya, “Sebab turunnya ayat ini (An Nisa’:7) bahwasannya kaum Jahiliah memberikan warisan hanya pada laki-laki dan tidak untuk perempuan. Dan Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ikrimah ia berkata, “Firman Allah (An Nisa’: 7) terkait  dengan Ummu Kajjah dan anak-anak perempuannya, serta Tsa’labah dan Aus bin Suwaid,  dan mereka berasal dari kalangan Anshar. Salah satu di antara keduanya adalah suami bagi Ummu Kajjah dan yang lainnya adalah pamannya. Suatu hari Umma Kajjah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah suamiku telah wafat dan ia meninggalkan diriku dan anak perempuannya namun kami tidak mendapatkan harta warisannya. Lalu berkatalah paman dari anaknya, “Wahai Rasulullah, anaknya tidak bisa menunggangi kuda dan tidak mampu menanggung beban, serta tidak bisa memerangi musuh. Lalu turunlah ayat ini (An Nisa’: 7).
Dalam konteks yang sama, telah diriwayatkan dari Jabir tentang sebab turunnya firman Allah, “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu, bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan…” (QS. An Nisa’: 11), ia berkata, “Suatu hari istri Sa’id bin Rabi’ mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah ini adalah dua anak perempuan Sa’id bin Rabi’, ia telah terbunuh dalam perang Uhud bersama sebagi syuhada’, dan paman mereka telah mengambil harta yang ditinggalkan Sa’id tanpa menyisakan bagi kedua anak perempuannya sedikitpun, sedangkan mereka tidak akan dinikahkan kecuali mereka memiliki harta. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Allah akan memutuskan perkara ini.” Lalu turunlah ayat tentang harta warisan, kamudian Rasulullah mengutus seorang utusan kepada paman kedua anak perempuan tersebut dan berkata, “Berikanlah kedua anak Sa’id 2/3 bagian dari harta yang ditinggalkannya, sedangkan ibu 1/8 bagian, dan sisanya merupakan milikmu.”

Merawatnya Serta Tidak Mengutamakan Anak Laki-laki Atasnya
Islam talah memberikan perhatian penuh pada perempuan di setiap fase kehidupannya, maka Islam mewajibkan bagi walinya untuk merawatkan sejak dalam buaian. Dan Islam menjadikan penjagaan terhadapnya sebagai tameng dari api neraka dan jalan menuju surga. Imam Muslim dan Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwasannya Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang menanggung kebutuhan dua anak perempuan hingga keduanya baligh, maka ia akan datang bersamaku pada hari kiamat, lalu Nabi menggabungkan jari-jarinya (sebagai isyarat kedekatan keduanya). (HR. Muslim)
Dan Islam melarang mengutamakan anak laki-laki atas anak perempuan dalam hal didikan dan perhatian. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa memiliki anak perempuan dan ia tidak menguburnya, tidak menghinakannya, serta tidak mengutamakan anak laki-laki atasnya maka Allah akan memasukkanya kedalam surga.”  (HR. Abu Daud). Dan diriwayatkan dari Anas bahwasannya ada seorang laki-laki yang duduk bersama Nabi SAW lalu datanglah kepadanya anak laki-lakinya, dan ia menciumnya serta mendudukkan disampingnya. Kemudian datanglah anak perempuannya, lalu ia mengangkatnya dan mendudukkannya disampingnya (tanpa menciumnya lebih dahulu). Lalu Nabi SAW pun berkata, “Mengapa engkau tidak berlaku adil kepada keduanya.”  Dan disebutkan dalam Al Fatawa Al Hindiah, “Tidak dibolehkan mengutamakan anak laki-laki atas anak perempuan dalam pemberian.”
Di antara bentuk perhatian kepada perempuan pada masa kecilnya adalah mengajarkan kepada mereka sebuah keahlian untuk kehidupan masa depannya. Oleh sebab itu, Islam memberikan pengecualian terhadap keharaman membuat patung (boneka) yang dibuat untuk media bermain bagi anak-anak perempuan. Maka dibolehkan untuk membuatnya, meminta untuk dibuat, serta memperdagangkannya untuk mereka. Sebab, umumnya anak-anak perempuan dapat berlatih dengan media tersebut ketika kelak mendidik anak-anak mereka. Telah diriwayatkan bahwa Aisyah ra memiliki tetangga yang biasa bermain boneka yang terbuat dari kayu bersamanya. Dan jika mereka melihat Rasul SAW mereka merasa malu terhadapnya. Dan Nabi SAW pun pernah membelikan boneka untuk Aisyah.

Memuliakan Wanita Ketika Menjadi Seorang Istri
Allah SWT telah memerintahkan berlaku ihsan (baik) dalam menggauli istri. Allah berfirman, “Dan bergaullah dengan mereka secara patut…” (QS. An Nisa’: 19). Ibnu Katsir berkata, “Perindahlah perkataan-perkataanmu terhadap mereka, dan perlakuan-perlakuan serta kondisimu menurut kesanggupanmu. Sebagaimama yang demikian telah diwajibkan atas mereka, maka berbuatlah kalian sebagaimana mereka berbuat, Allah SWT berfirman, “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf…” (QS. Al Baqarah: 228). Dan Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling berlaku baik bagi keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban menshahihkannya).
Dan di antara akhlaq terpuji Rasulullah SAW terhadap keluarganya adalah di mana Rasul SAW selalu bermuka ceria terhadap mereka, bermain bersama mereka, dan berlemah lembut atas mereka, serta selalu menyediakan nafkah yang cukup dan suka bercanda dengan istri-istrinya. Bahkan diriwayatkan beliau pernah beradu lari dengan Umm al Mu’minin Aisyah ra dan mereka saling mengejar. Aisyah berkata, “Rasulullah SAW pernah beradu lari denganku dan akupun mengalahkannya, hal itu ketika badanku belum terasa berat. Kemudian katika badanku telah terasa berat Rasulullahpun dapat mengalahkanku, dan beliau berkata, “Aku menang sebagaimana sebelumnya aku kalah.” (HR. Abu Daud dan Ahmad).  Dan juga telah diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW jika telah melaksanakan shalat Isya’ lalu masuk ke rumahnya, beliau bercakap-cakap sebentar dengan keluarganya sebelum tidur (HR. Bukhari).
Selain itu para suami seyogyanya dapat bersabar atas prilaku istrinya meskipun ia membencinya, sebagaimana firman Allah SWT, “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa’: 19). Ibnu Kastir berkata, “Maksudnya, semoga kesabaran kalian untuk tidak mentalaqnya meskipun kalian tidak menyukainya, di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak bagi kalian di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana Ibnu Abbas berkata, “Baginya untuk berkasih sayang padanya maka Allah akan memberinya rizki berupa seorang anak yang akan mendatangkan kebaika yang banyak baginya, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits shahih, “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, jika ia membenci darinya satu perilaku maka ia pasti ridha (menyukai) darinya perilaku yang lain.” (HR. Muslim 2/1091).
Adapun berkaitan dengan hak-hak seorang istri atas suaminya, maka pembahasan yang lebih konfrehensif dapat dilihat pada bab nikah dalam kitab-kitab fiqih, sebagai satu contoh sebagaimana yang disebutkan para ulama tentang memuliakan para ibu. Nabi Muhammad SAW dalam beberapa haditsnya sering kali berwasiat untuk berbuat baik terhadap para ibu dan memerintahkan untuk lebih memperhatikan mereka dari pada ayah. Imam Bukhari dan Muslim mariwayatkan sebuah hadits dari Abi Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata,
ÌóÇÁó ÑóÌõáñ Åöáóì ÑóÓõæáö Çááå Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó¡ ÝóÞóÇáó: íóÇ ÑóÓõæáó Çááå! ãóäú ÃóÍóÞøõ ÈöÍõÓúäö ÕóÍóÇÈóÊöí¿ ÞóÇáó: «Ãõãøõßó» ÞóÇáó: Ëõãøó ãóäú¿ ÞóÇáó: «Ãõãøõßó» ÞóÇáó: Ëõãøó ãóäú¿ ÞóÇáó: «Ãõãøõßó» ÞóÇáó: Ëõãøó ãóäú¿ ÞóÇáó «Ëõãøó ÃóÈõæßó»
“Seseorang mendatangi Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik? Beliau bersabda, “Ibumu”, lalu ia bertanya kembali, “Kemudian?”, Rasul menjawab, “Ibumu”, lalu ia berkata, “Kemudian?”, Rasul menjawab, “Ibumu”, lalu ia bertanya, “Kemudian?”, Rasul menjawab, “Ayahmu”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu Rasulullah SAW pun telah menetapkan bahwa ridhonya merupakan salah satu jalan menuju surga. Diriwayatkan seseorang pernah berkata, “Wahai Rasulullah aku ingin ikut berperang dan aku datang kepadamu untuk meminta saran?”, Rasul menjawab, “Apakah engkau masih memiliki seorang ibu?” ia berkata, “Iya”, lalu Rasul bersabda, “Temanilah ia, sesungguhnya surga berada di antara kedua kakinya.”

Haq-haq Wanita Yang Sama Dengan Laki-laki
Perempuan memiliki kesamaan hak yang sama dengan laki-laki dalam banyak perkara yang bersifat umum, meskipun hal tersebut dibatasi dalam beberapa hal yang bersifat parsial, yang disesuaikan dengan thabiat/fitrah masing-masing. Berikut ini adalah haq-haq yang sama-sama dimiliki laki-laki dan perempuan:

Hak Dalam Pendidikan
Para perempuan juga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan sebagaimana laki-laki. Rasulullah SAW telah bersabda, “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.”  Demikian pula muslimah, Al Hafidz As Sakhawi berkata, “Sebagian ulama menambahkan pada akhir hadits ini kata “al Muslimah” meskipun tidak terdapat sama jalur haditsnya yang meriwayatkannya, namun tambahan tersebut secara makna dapat dinyatakan benar.”
Nabi SAW pun bersabda, “Barangsiapa yang memiliki anak perempuan, lalu ia mendidiknya dengan didikan yang baik, serta memberikannya nikmat sebaimana Allah telah memberinya nikmat, maka baginya tameng atau hijab dari api neraka.”
Pada masa Nabi SAW para shahabiat (shahabat wanita) terus berusaha mendapatkan ilmu dari beliau. Sebagaimana imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abi Sa’id Al Khudri, ia berkata, “Para wanita berkata kepada Nabi SAW, “Engkau lebih banyak bersama para laki-laki, maka berilah kami satu hari untuk dapat menimba ilmu darimu.” Maka Rasulullah berjanji kepada mereka untuk dapat bertemu dengan mereka satu hari, mengajarkan kepada mereka ilmu dan perintah-perintah agama.” (HR. Bukhari, Ibnu Hajar, Fath Al Bari, 1195). Aisyah ra berkata, “Sebaik-baik wanita adalah para wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu agama.” (HR. Muslim 1/261).
Nabi SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk mendirikan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika enggan mendirikan shalat) ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR. Abu Daud). An Nawawi berkata, “Hadits ini secara ekspilit menyebutkan anak laki-laki dan anak perempuan, dan bahwasannya tidak ada perbedaan di antara mereka.” Kemudian ia menambahkan, “Imam Syafi’i dan para shahabatnya rahimahumullah berkata, “Wajib atas para orang tua mengajarkan anak-anak mereka tentang thaharah, shalat, puasa, dll. Dan juga mengajarkan mereka tentang haramnya zina, liwath (homoseks/lesbian), mencuri, meminum khamr, berbohong, menggunjing, dll. Sebab sejak mereka akil baligh, maka mereka telah dijatuhi beban syariat. Pengajaran ini menurut pendapat yang benar, hukumnya wajib. Adapun gaji pengajaran tersebut ditanggung oleh hari sang anak. Namun jika ia tidak memiliki harta, maka ditanggung oleh wali yang menafkahinya. Dan Imam Syafi’i beserta para shahabatnya telah menetapkan bahwa sang ibu memiliki wajib memberikan pengajaran, sebagaimana nafkah yang diwajibkan atas sang ayah.”
Demikian pula diwajibkan untuk mengajarkan ilmu-ilmu non syariah yang dikira penting bagi perempuan seperti kedokteran, hingga para laki-laki tidak diperkenankan memeriksa aurat wanita.
Dengan demikian, tidak ada perbedaan di antara ulama tentang disyariatkannya pendidikan bagi perempuan. Namun syariat menetapkan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar dalam perkara ini:
1. Menghindari terjadinya campur baur antara lawan jenis dalam satu ruang belajar. Dengan demikian seorang perempuan tidak bolehkan duduk berdampingan dengan laki-laki. Dalam hal ini, Rasulullah SAW telah memberikan contoh, di mana ketika beliau meberikan pengajaran kepada para pengikutnya, beliau membedakan hari belajar antara laki-laki dengan perempuan. Bahkan bukan hanya dalam hal belajar mengajar semata, dalam perkara ibadahpun wanita dan laki-laki tidak dibolehkan bercampur baur. Dalam hal ini, Islam mengarahkan agar para wanita menempati tempat tersendiri dari sisi masjid untuk mendengarkan wajangan atau melaksanakan shalat dan tidak diwajibkan atas mereka membuat tempat yang khusus atau membuat sebuah penghalang antara shaf-shaf sholat mereka dengan shaf-shaf shalal laki-laki.
2. Para wanita diharapkan untuk menyederhanakan penampilan dan tidak bersolek dengan perhiasan-perhiasan mereka. Sebagaimana firman Allah, “…Dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.  (QS. An Nur: 31).

Para Wanita Terbebani dengan Beban-beban Syariat
Islam tidak membedakan antara wanita dan laki-laki dalam aspek-aspek syariat. Sebagaimana laki-laki terbebani dengan beban-beban syariat, maka demikian pula wanita. Selain itu, para walinya pun dituntut untuk memerintahkan mereka melaksanakan ibadah, dan mengajarkannya kepada mereka sejak mereka kecil. Dalam hal ini, sabda Nabi SAW, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk mengerjakan sholat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika enggan mendirikan shalat) ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR. Abu Daud) mencakup didalamnya perintah terhadap anak perempuan, tanpa adanya perbedaan di antara ulama tentang pengertian ini.
Sedangkan ketika ia beranjak dewasa setelah melalui masa baligh (ditandai dengan keluarnya darah haidh), maka ia pun dibebani kewajiban-kewajiban ibadah, seperti shalat, puasa, zakat, haji dll. Dan tidak diperkenankan bagi siapa pun –suaminya maupun orang lain- untuk melarangnya dari melaksanakan kewajiban tersebut. Dengan demikian, secara umum, Islam menyamakan hak dan kewajiban bagi perempuan dan laki-laki dalam perkara-perkara aqidah (keyakinan), ibadah, akhlaq, dan hukum-hukum syariat dalam hal pembebanan terhadapnya, dan balasan atasnya.  Allah SWT berfirman:

ãóäú Úóãöáó ÕóÇáöÍðÇ ãöäú ÐóßóÑò Ãóæú ÃõäúËóì æóåõæó ãõÄúãöäñ ÝóáóäõÍúíöíóäøóåõ ÍóíóÇÉð ØóíøöÈóÉð æóáóäóÌúÒöíóäøóåõãú ÃóÌúÑóåõãú ÈöÃóÍúÓóäö ãóÇ ßóÇäõæÇ íóÚúãóáõæäó
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97).

Dalam ayat yang lain, Allah kembali menekankan kandungan ayat di atas,
Åöäøó ÇáúãõÓúáöãöíäó æóÇáúãõÓúáöãóÇÊö æóÇáúãõÄúãöäöíäó æóÇáúãõÄúãöäóÇÊö æóÇáúÞóÇäöÊöíäó æóÇáúÞóÇäöÊóÇÊö æóÇáÕøóÇÏöÞöíäó æóÇáÕøóÇÏöÞóÇÊö æóÇáÕøóÇÈöÑöíäó æóÇáÕøóÇÈöÑóÇÊö æóÇáúÎóÇÔöÚöíäó æóÇáúÎóÇÔöÚóÇÊö æóÇáúãõÊóÕóÏøöÞöíäó æóÇáúãõÊóÕóÏøöÞóÇÊö æóÇáÕøóÇÆöãöíäó æóÇáÕøóÇÆöãóÇÊö æóÇáúÍóÇÝöÙöíäó ÝõÑõæÌóåõãú æóÇáúÍóÇÝöÙóÇÊö æóÇáÐøóÇßöÑöíäó Çááøóåó ßóËöíÑðÇ æóÇáÐøóÇßöÑóÇÊö ÃóÚóÏøó Çááøóåõ áóåõãú ãóÛúÝöÑóÉð æóÃóÌúÑðÇ ÚóÙöíãðÇ

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 35).

Tentang sebab turunnya ayat ini, diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas ra berkata, “Para wanita bertanya kepada Nabi SAW, “Mengapa (dalam setiap perkara) yang disebut hanya laki-laki yang mukmin dan tidak disebut perempuan yang mukminah.” Maka turunlah ayat di atas.”  Dan diriwayatkan pula, bahwa Ummu Salamah berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, mengapa para laki-laki selalu disebut dalam setiap urusan, namun tidak dengan kami (perempuan)?!” Maka turunlah ayat di atas.
Adapun perihal jawaban dari Allah terhadap pertanyaan para wanita di atas, dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya, “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain…  (QS. Ali Imran: 195). Pada kalimat “Sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain“ Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya kalian (laki-laki dan perempuan) sama dalam hal balasan amal.”
Allah pun menjelaskan, bahwa orang-orang yang menyakiti wanita yang beriman maka mereka mendapatkan dosa sebagaimana jika mereka menyakiti laki-laki beriman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 58).
Wanita juga dituntut untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar sebagaimana laki-laki, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah: 71).
Demikian pula kewajiban jihad, yang juga dibebankan atas wanita jika dalam kondisi kaum muslimin diserang oleh musuh. Para fuqaha menyatakan bahwa jika musuh telah memasuki wilayah kaum muslimin, maka setiap individu dari kalangan kaum muslimin -laki-laki dan perempuan- diwajibkan atas mereka berjihad. Bahkan para wanita dibolehkan untuk berjihad tanpa harus mendapatkan izin dari para suaminya, sebab hak suami tidak boleh didahulukan atas kewajiban ini.
Walau demikian, Allah telah meringankan para wanita untuk tidak melaksanakan ibadah tertentu pada empat kondisi yang akan selalu mengikuti mereka. Pada empat kondisi ini Islam telah menentukan beberapa hukum khusus bagi mereka, yaitu pada kondisi haidh (menstruasi), hamil, nifas, dan menyusui.

Islam Menghargai Keinginan Mereka
Islam sejak lahirnya, telah memberikan kepada perempuan hak berpendapat dan menyampaikan keinginan-keinginan yang ada pada diri mereka. Allah SWT telah memberi mereka hak tersebut, di saat kaum jahiliah merampasnya dari mereka dan mengharamkanya bagi mereka. Para wanita pada masa itu, jika ditinggal mati oleh suaminya , mereka tidak berhak atas diri mereka sendiri. Mereka layaknya sebuah barang yang diwariskan kepada orang-orang yang mewarisi harta suami mereka. Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas  tentang firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa…”(QS. An Nisa’: 19),  ia berkata, “Pada masa Jahiliah, jika seseorang meninggal, maka ahli warisnya lebih berhak atas diri istrinya. Jika mereka menghendaki, mereka menikahinya, atau menikahkannya untuk orang lain, atau tidak menikahkannya sama sekali. Berkaitan dengan hal ini, ayat tersebut diturunkan” (HR. Bukhari).
Zaid bin Aslam berkata, “Dahulu penduduk Yatsrib pada masa Jahiliah, jika ada seseorang di antara mereka meninggal, maka istrinya diwarisi oleh para ahli warisnya. Ia menahannya hingga menikahinya atau menikahkannya bagi orang yang diingininya. Adapun penduduk Tihamah, maka laki-laki di antara mereka selalu berlaku buruk pada istrinya hingga ia menceraikannya dan mensyaratkan atasnya untuk tidak menikah lagi kecuali dengan orang yang ia kehendaki atau sang wanita menebus dirinya dengan sesuatu yang dapat ia berikan padanya. Lalu Allah SWT melarang hal tersebut atas orang-orang beriman.
Disamping itu, Islam pun menghargai keingginannya dalam hal pernikahan, Nabi SAW bersabda, “Janganlah seorang janda dinikahkan sebelum dimintai persetujuannya, dan jangan pula seorang gadis dinikahkan sebelum dimintakan izinya.”  Berdasarkan hadits tersebut, para ulama sepakat menetapkan bahwa meminta persetujuan oleh seorang wali untuk menikahkan seorang janda hukumnya wajib. Oleh sebab itu, jika ia dinikahkan dengan seseorang tanpa persetujuannya maka pernikahan tersebut dinyatakan sah jika ia meridhainya.
Adapun hal tersebut atas seorang gadis hukumnya mustahab/sunnah menurut jumhur ahli fiqih. ‘Atha’ berkata, “Nabi SAW jika ingin menikahkan anak peremuaannya, beliau meminta persetujuan dahulu kepada mereka.”  Namun menurut Hanafiah hukumnya adalah wajib. Bahkan mereka membolehkannya untuk menikahkan diri mereka sendiri tanpa adanya wali. Disebutkan dalam salah satu rujukan mazhab hanafi, Al Ikhtiyar, “Ungkapan seorang wanita dianggap sah dalam pernikahan, bahkan sekalipun seorang wanita merdeka yang telah baligh dan berakal menikahkan dirinya sendiri, atau menikahkan wanita lain, dan ia sebagai wali ataupun wakilnya. Demikian pula boleh baginya menjadikan seseorang sebagai wakil untuk menikahkannya. Dan ini merupakan pandangan Abu Hanifah, Zufar dan Al Hasan serta pandangan yang diambil oleh Abu Yusuf dalam satu riwayat. Mereka mendasarkannya pada satu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, “Bahwa Khansa’ binti Hizam dinikahkan oleh ayahnya, namun ia tidak suka, maka nabi SAW pun membatalkan pernikahan tersebut.”  Dan juga diriwayatkan, bahwa seorang wanita menikahkan anak perempuannya dengan ridhonya. Lalu datanglah para walinya kepada Ali Radhiallahu’anhu untuk memperkarakan hal tersebut. Namun Ali malah membolehkan pernikahan tersebut. Dengan demikian, riwayat ini merupakan dalil berlakunya ungkapan wanita, dan bahwa ia boleh menikah tanpa adanya wali, ketika para wali tidak ada. Sebab wanita tersebut telah menggunakan haknya, dan itupun tidak menimbulkan bahaya baginya dan orang lain, maka boleh dilakukan sebagaimana ia menggunakan hartanya sendiri.”  Pandangan di atas merupakan pandangan Hanafiah yang berbeda dengan pandangan jumhur ulama.

Para wanita juga memiliki hak untuk ikut menyampaikan pandangannya dalam permasalahan yang dihadapi suaminya, bahkan ia dibolehkan untuk menentang pandangan suaminya. Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu pernah bercerita:
æóÇááåö Åöäú ßõäøóÇ Ýöí ÇáúÌóÇåöáóíøóÉö ãóÇ äóÚõÏøõ áöáäøöÓóÇÁö ÃóãúÑðÇ ÍóÊøóì ÃóäúÒóáó Çááåõ Ýöíåöäøó ãóÇ ÃóäúÒóáó¡ æóÞóÓóãó áóåõäøó ãóÇ ÞóÓóãóº ÞóÇáó: ÝóÈóíúäóÇ ÃóäóÇ Ýöí ÃóãúÑò ÃóÊóÃóãøóÑõåõ¡ ÅöÐú ÞóÇáóÊú ÇãúÑóÃóÊöí: áóæú ÕóäóÚúÊó ßóÐóÇ æóßóÐÇ ÞóÇáó ÝóÞõáúÊõ áóåóÇ: ãóÇ áóßö æóáöãóÇ ååõäóÇ¡ ÝöíãóÇ ÊóßóáøõÝõßö Ýöí ÃóãúÑò ÃõÑöíÏõåõ ÝóÞóÇáóÊú áöí: ÚóÌóÈðÇ áóßó íóÇ ÇÈúäó ÇáúÎóØøóÇÈö ãóÇ ÊõÑöíÏõ Ãóäú ÊõÑóÇÌóÚó ÃóäúÊó¡ æóÅöäøó ÇÈúäóÊóßó áóÊõÑóÇÌöÚõ ÑóÓõæáó Çááåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÍóÊøóì íóÙóáøó íóæúãóåõ ÛóÖúÈóÇäó ÝóÞóÇãó ÚõãóÑõ ÝóÃóÎóÐó ÑöÏóÇÁóåõ ãóßóÇäóåõ ÍóÊøóì ÏóÎóáó Úóáóì ÍóÝúÕóÉóº ÝóÞóÇáó áóåóÇ: íóÇ ÈõäóíøóÉõ Åöäøóßö áóÊõÑóÇÌöÚöíäó ÑóÓõæáó Çááåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÍóÊøóì íóÙóáøó íóæúãóåõ ÛóÖúÈóÇäó ÝóÞóÇáóÊú ÍóÝúÕóÉõ: æóÇááåö ÅöäøóÇ áóäõÑóÇÌöÚõåõ ÝóÞõáúÊõ: ÊóÚúáóãöíäó Ãóäøöí ÃõÍóÐøöÑõßö ÚõÞõæÈóÉó Çááåö æóÛóÖóÈó ÑóÓõæáöåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó¡ íóÇ ÈõäóíøóÉõ áÇó íóÛõÑøóäøóßó åÐöåö ÇáøóÊí ÃóÚúÌóÈóåóÇ ÍõÓúäõåóÇ ÍõÈøõ ÑóÓõæáö Çááåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÅöíøóÇåóÇ (íõÑíÏõ ÚóÇÆöÔóÉó) ÞóÇáó¡ Ëõãøó ÎóÑóÌúÊõ ÍóÊøóì ÏóÎóáúÊõ Úóáóì Ãõãøó ÓóáóãóÉó¡ áöÞóÑóÇÈóÊöí ãöäúåóÇ¡ ÝóßóáøóãúÊõåóǺ ÝóÞóÇáóÊú Ãõãøõ ÓóáóãóÉó: ÚóÌóÈðÇ áóßó íóÇ ÇÈúäó ÇáúÎóØøóÇÈö ÏóÎóáúÊó Ýöí ßõáøö ÔóíúÁò ÍóÊøóì ÊóÈúÊóÛöí Ãóäú ÊóÏúÎõáó Èóíúäó ÑóÓõæáö Çááåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó æóÃóÒúæóÇÌöåö ÝóÃóÎóÐóÊúäöí¡ æóÇááåö ÃóÎúÐðÇ ßóÓóÑóÊúäöí Úóäú ÈóÚúÖö ãóÇ ßõäúÊõ ÃóÌöÏõ¡ ÝóÎóÑóÌúÊõ ãöäú ÚöäúÏöåóÇ.óæßóÇäó áöí ÕóÇÍöÈñ ãöäó ÇáÃóäúÕóÇÑö¡ ÅöÐóÇ ÛöÈúÊõ ÃóÊóÇäöí ÈöÇáÎóÈóÑö¡ æóÅöÐóÇ ÛóÇÈó ßõäúÊõ ÃóäóÇ ÂÊöíåö ÈöÇáúÎóÈóÑöº æóäóÍúäõ äóÊóÎóæøóÝõ ãóáößðÇ ãöäú ãõáõæßö ÛóÓøóÇäó ÐõßöÑó áóäóÇ Ãóäøóåõ íõÑöíÏõ Ãóäú íóÓíÑó ÅöáóíúäóÇ¡ ÝóÞóÏö ÇãúÊóáÃóÊú ÕõÏõæÑõäóÇ ãöäúåõ ÝóÅöÐóÇ ÕóÇÍöÈöí ÇáÃóäúÕóÇÑöíøõ íóÏõÞøõ ÇáúÈóÇÈóº ÝóÞóÇáó: ÇÝúÊóÍú ÇÝúÊóÍú ÝóÞõáúÊõ: ÌóÇÁó ÇáúÛóÓøóÇäöíøõ ÝóÞóÇáó: Èóáú ÃóÔóÏøõ ãöäú Ðóáößó¡ ÇÚúÊóÒóáó ÑóÓõæáõ Çááåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÃóÒúæóÇÌóåõº ÝóÞõáúÊõ: ÑóÛóãó ÃóäúÝõ ÍóÝúÕóÉó æóÚÇÆöÔóÉó ÝóÃóÎóÐúÊõ ËóæúÈöí ÝóÃóÎúÑõÌõ ÍóÊøóì ÌöÆúÊõ ÝóÅöÐóÇ ÑóÓõæáõ Çááåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó Ýöí ãóÔúÑõÈóÉò áóåõ íóÑúÞóì ÚóáóíúåóÇ ÈöÚóÌóáóÉò¡ æóÛõáÇóãñ áöÑóÓõæáö Çááåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÃóÓúæóÏõ Úóáóì ÑóÃúÓö ÇáÏøóÑóÌóÉöº ÝóÞõáúÊõ áóåõ: Þõáú åÐóÇ ÚõãóÑõ Èúäõ ÇáúÎóØøóÇÈö¡ ÝóÃóÐöäó áöí ÞóÇáó ÚõãóÑõ: ÝóÞóÕóÕúÊõ Úóáóì ÑóÓõæáö Çááåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó åÐóÇ ÇáúÍóÏöíËó¡ ÝóáóãøóÇ ÈóáóÛúÊõ ÍóÏöíËó Ãõãøö ÓóáóãóÉó ÊóÈóÓøóãó ÑóÓõæáõ Çááåö Õóáøóì Çááøóåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó¡ æóÅöäøóåõ áóÚóáóì ÍóÕöíÑò ãóÇ Èóíúäóåõ æóÈóíúäóåõ ÔóíúÁñ¡ æóÊóÍúÊó ÑóÃúÓöåö æöÓóÇÏóÉñ ãöäú ÃóÏóãò ÍóÔúæõåóÇ áöíÝñ¡ æóÅöäøó ÚöäúÏó ÑöÌúáóíúåö ÞóÑóÙðÇ ãóÕúÈõæÈðÇ¡ æóÚöäúÏó ÑóÃúÓöåö ÃóåóÈñ ãõÚóáøóÞóÉñº ÝóÑóÃóíúÊõ ÃóËóÑó ÇáúÍóÕöíÑö Ýöí ÌóäúÈöåö¡ ÝóÈóßóíúÊõº ÝóÞóÇáó: ãóÇ íõÈúßöíßó ÝóÞõáúÊõ: íóÇ ÑóÓõæáó Çááåö Åöäøó ßöÓúÑì æóÞóíúÕóÑó ÝöíãóÇ åõãóÇ Ýöíåö¡ æóÃóäúÊó ÑóÓõæáõ Çááåö ÝóÞóÇáó: ÃóãóÇ ÊóÑúÖì Ãóäú Êóßõæäó áóåõãõ ÇáÏøõäúíÇ æóáóäóÇ ÇáÂÎöÑóÉõ.

“Demi Allah, di masa jahiliyyah dulu, kami tidak pernah mempetimbangkan idea tau saran yang berasal dari kaum wanita, hingga Allah menuunkan ayat berkenaan dengan hak mereka, dan DIa membagi hak yang dibagikan-Nya. Umar melanjutkan, “Maka ketika menghadapi suatu persoalan yang hendak aku pertimbangkan, tiba-tiba istriku berkata,

“Seandainya anda berbuat seperti ini dan itu! Maka kukatakan padanya, “Ada apa denganmu, kenapa turut campur. Untuk apa turut campur dalam persoalanku? Istriku menjawab, “Kamu ini aneh wahai Ibnu Al Khattab! Apakah anda tidak mau dibantah sementara anak perempuanmu sendiri membantah Rasulullah SAW hingga beliau merasa jengkel sepanjang hari?. Umarpun segera bergegas mengambil pakaian dan menemui Hafshah, ia lantas berkata kepadanya, “Wahai anakku, apakah kamu suka membantah Rasulullah SAW hingga beliau merasa jengkel sepanjang hari?. Hafshah berkata, “Demi Allah kami biasa membantah beliau.” Aku katakana padanya, “Aku peingatkan padamu, jangan sampai kamu terkena siksaan Allah dan amarah Rasul-Nya SAW wahai anakku. Jangan kamu tergiur mengikuti wanita yang sudah merasa sangat dicintai Rasulullah SAW (maksudnya ialah Aisyah). Umar melanjutkan kisahnya, “Kemudian aku keluar untuk menemui Ummu Salamah karena kedekatan hubungan kerabatku dengannya. Akupun berbicara kepadanya. Ummu Salamah lantas berkata, “Sungguh aneh anda ini, wahai Ibnu Al Khattab. Kamu telah memasuki semua urusan. Hingga kamu hendak memasuki urusan yang terjadi antara Rasulullah SAW dengan para istrinya.” Ummu Salamah membantahku dengan sebuah bantahan yang telah menghilangkan apa yang menjadi keinginanku sebelumnya. Akupun segera keluar dari kediamannya.
Waktu itu aku memiliki seorang shahabat dari kalangan Anshar. Jika aku tidak hadir (dalam majlis Rasulullah SAW), ia selalu menyampaikan berita yang ada. Dan jika ia yang absen, akulah yang menyampaikan berita baru padanya. Saat itu, kami takut pada seorang raja dari raja-raja Ghassan. Telah tersebar berita bahwa ia akan berjalan ke arah kami berada. Sementara perasaan dan pikiran kami selalu memperhatikan hal itu. Tiba-tiba shahabat Anshar itu mengetuk pintu dan berteriak, “Buka pintu, buka pintu.” Aku bertanya, “Apa raja Ghassan telah datang?.” Ia menjawab, “Bahkan lebih dahsyat dari pada itu. Rasulullah SAW menceraikan istri-istri beliau.” Aku menyahut, “Celaka Hafshah dan Aisyah.” Akupun segera mengambil pakaianku dan keluar menemui Rasulullah SAW. ternyata beliau sedang berada di tempat minum miliknya, yang jika beliau menaikinya, beliau pergunakan tangga. Sementara pembantu Rasulullah SAW, Aswad berada di tangga. Aku katakan kepadanya, “Katakan pada beliau, Umar bin Khattab datang.” Beliau pun mengizinkanku masuk. Lalu aku menutukan kisah kejadian ini pada beliau. Ketika kisahnya sampai pada kejadian bersama Ummu Salamah, Rasulullah SAW tersenyum. Saat itu beliau berada di atas tikar yang tidak dilapisi sesuatu apa pun. Di bawah kepalanya hanya terdapat bantal yang terbuat dari kulit yang berisikan sabut. Pada kedua kakinya terdapat dedaunan, sementara di kepalanya terdapat kulit yang telah disamak. Aku melihat bekas tikar di rusuk beliau. Aku pun menangis. Beliau bertanya, “Kenapa menangis?.” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar sedang dalam kemewahannya, sementara anda begini.” Beliaupun bersabda, “Tidak kah kamu ridha bila dunia menjadi milik mereka dan akhirat menjadi milik kita?.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian pula, Islam memandang baik meminta pandangan wanita atas persoalan-persoalan mereka di mana mereka pun memiliki kemampuan atasnya. Hal ini didasarkan atas keumuman sunnah bermusyawarah dalam firman Allah, “…sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka…” (QS. Syura: 38). Dan Hadits Ummu Salamah, ia berkata,
áãÇ ÝÑÛ ÇáäÈí ãä ßÊÇÈ ÇáÕáÍ ÞÇá ÑÓæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æÓáã áÃÕÍÇÈå: “ÞæãæÇ ÝÇäÍÑæÇ Ëã ÇÍáÞæÇ” ÝãÇ ÞÇã ãäåã ÑÌá ÍÊì ÞÇá Ðáß ËáÇË ãÑÇÊ ÝáãÇ áã íÞã ãäåã ÃÍÏ ÏÎá Úáì Ãã ÓáãÉ ÝÐßÑ áåÇ ãÇ áÞí ãä ÇáäÇÓ ÝÞÇáÊ Ãã ÓáãÉ: “íÇ äÈí Çááå ÃÊÍÈ Ðáß¿ ÇÎÑÌ Ëã áÇ Êßáã ÃÍÏÇ ãäåã ßáãÉ ÍÊì ÊäÍÑ ÈÏäß æÊÏÚæ ÍÇáÞß ÝíÍáÞß” ÝÎÑÌ Ýáã íßáã ÃÍÏÇ ãäåã

sumber:

http://www.rumahfiqih.com/ens/e2.php?id=105&=wanita.htm

 

Categories: Wanita dlm Islam Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: